Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 30 Oktober 2013

Pilih Resep Nabi atau Resep Dokter?



Pernahkah Anda dengar orang bicara seperti ini: “Mau pilih resep Nabi apa pilih resep dokter?”, “Mau herbal apa obat kimia?”, “Mau vaksin apa ASI eksklusif?”, dan lain-lain. Seolah kedua hal tersebut kontradiksi dan hanya boleh memilih salah satu. Ya hanya boleh salah satu pilihan saja. Begitukah Islam mengajarkan? Mengapa itu bisa terjadi? Ya tidak tahu kenapa. Tapi saya ingin bahas sedikit ke muara ilmu pengobatan ya.

Tahukah Anda bahwa semua ilmu itu dari Allah? Allah Subhanahu wa ta'ala yang Maha Berilmu itu menurunkan ilmu-Nya kepada manusia melalui dua jalan:

1. Lewat perantaraan Nabi (wahyu), dan
  1. 2. Langsung kepada manusia

Ada karakteristik khas untuk masing-masing jalur ilmu itu dan tidak boleh terbalik dalam aplikasinya. Bila terbalik bisa fatal akibatnya. Ilmu Allah yang turun lewat Nabi, termasuk pengobatan Nabi, bersifat umum, luas, global, dan diyakini mutlak benarnya oleh umat Islam, iya kan? Sebaliknya ilmu yang langsung Allah beri kepada manusia, melalui eksperimen, penelitian, percobaan ilmiah, perenungan, pemikiran, ilham juga khas. Ilmu yang diperoleh melalui eksperimen ini bersifat relatif kebenarannya. Yang benar hari ini belum tentu benar di kemudian hari. Iya kan? Kalau ilmu yang dari Nabi sifatnya benar mutlak tapi global, misalnya: tidak ada kan hadits yang memuat cara operasi bedah tulang, cara operasi jantung dll. Nah kedua jalur ilmu itu karena sumbernya sama dari Allah Subhanahu wa ta'ala maka harusnya saling harmonis asal kita tempatkan sesuai dengan posisinya.

Pengobatan nabi bersifat global, umum sifatnya. Tidak spesialistik dan detail. Karena memang nabi bukan diutus Allah sebagai dokter, tapi Rasul. Jadi bila ada orang yang bilang “Rasulullah is my doctor”, menurut saya dia sudah merendahkan posisi nabi itu sendiri. Masa nabi disamakan dengan saya (dokter, red)? Karena sifat ajaran pengobatan nabi yang mutlak benarnya itu bersifat umum, maka untuk yang detail-detail diserahkan pengembangannya kepada manusia sendiri. Konsep ini menyebabkan ilmuwan Islam zaman dulu maju berkembang pesat. Saat Baghdad punya banyak RS mewah, di Perancis orang masih jarang mandi. Jadi untuk hal-hal spesialistik dan detail seperti cara operasi, cara laparoskopi, vaksinasi, dll. pasti tidak ada haditsnya, iya kan?

Lalu apa saja ajaran pengobatan nabi itu? Banyak, tapi lebih bersifat promotif dan preventif, dengan aspek kuratif yang ada bersifat umum. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri sangat hormat terhadap tabib. Saat ada sahabat yang sakit, beliau panggil tabib yang ahli pengobatan. Jadi nabi sendiri menghargai dokter. Nabi sangat menghargai pendapat orang lain. Misalnya kasus perkawinan pohon kurma, saat itu beliau usul suatu cara yang malah bikin kurma tidak berbuah. Akhirnya setelah diprotes karena panen malah menurun, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أنْتُمْ أعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu.” (Hadits riwayat Muslim, dalam kitab Shahih Muslim (1366))

Nah beginilah kita memahami imunisasi dalam pandangan Islam. Itu termasuk dalam “kamu lebih tahu urusan duniamu”. Syaratnya tidak boleh bertentangan dengan syariat, seperti kehalalan, keamanan, asas manfaat, dan sebagainya. Tugas para ahli lah yang menentukan standar tersebut. Jadi tidak relevan kalau ada yang bilang: vaksinasi tidak perlu karena zaman nabi juga tidak ada vaksinasi, nah dulu juga tidak ada internet kan?

Lalu bagaimana kalau ada orang yang mencukupkan diri dengan nasihat pengobatan dari Nabi yang sifatnya umum itu, misal: madu, habatussauda, bekam, dll. Selama kondisi sakit masih ringan dan dalam 3 hari pertama, bisa ditoleransi. Tapi kalau perlu operasi jantung coba mau cari di mana hadits tentang itu? Jadi jangan suka ekstrim menolak pengobatan modern dan menganggap cukup dengan pengobatan ala nabi. Ingat nabi saja memanggil dokter untuk si sakit.

Menganggap semua pengobatan modern adalah salah karena mengandung zat kimia adalah salah total. Bukankah oksigen, gula, nasi, air zat kimia? Menganggap semua herbal adalah aman juga salah total. Bukankah banyak orang yang menderita kanker karena konsumsi herbal tertentu terus menerus. Baik pengobatan nabi maupun pengobatan modern, obat herbal atau obat tablet dan cairan, semua asalnya dari ilmu Allah untuk manusia.

Ranah penelitian dan eksperimen sangat diperlukan untuk pengobatan modern. Ingat untuk menghasilkan 1 vaksin butuh 10-15 tahun penelitian. Jadi masih percayakah kita bila hasil penelitian 15 tahun dimentahkan begitu saja dengan alasan zaman nabi tidak ada vaksin juga sehat? Bagaimana dengan bekam? Bekam sudah dikenal 2000 tahun sebelum Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir. Nabi menyetujui cara bekam. Tapi beliau tidak membekam orang.

Membabi-buta mengatakan “pengobatan Islam hanyalah bekam” bukan suatu konsep yang benar. Ingat nabi saja memanggil dokter saudara-saudaraku. Mari lebih rasional dan proporsional mendudukkan sesuatu. Jadi jangan dikotomikan ASI vs Imunisasi, herbal vs tablet, bekam vs operasi.

Di Cina yang komunis saja, terapi tradisional dan modern duduk berdampingan, harmonis. Untuk kasus akut dan bedah mereka pakai terapi modern. Untuk kasus kronis, sebagian tumor, dll. mereka pakai terapi tradisional. Masing-masing ada pembagiannya. Harmonis sekali. Di Cina (saya pernah jadi relawan medis untuk gempa di Cina) pasien-pasien kronis biasanya diterapi tradisional medicine. Ada infus yang warna hitam. Tapi bila ada kasus trauma karena KLL, fasilitas modern untuk operasi mereka keluarkan semua. Jadi di satu RS terdapat keduanya, tradisional dan modern.

Harmonisasi antara dua kutub pengobatan perlu juga dilakukan di sini. Tidak perlu dikotomi yang disertai sikap ekstrim saling menyalahkan. Untuk bisa mengobati pasien, seorang dokter kuliah 5 tahun (dokter umum), 4 tahun spesialis, 4 tahun subspesialis, minimal 13 tahun untuk jadi konsultan. Lalu tiba-tiba dengan gagahnya seorang anak muda yang baru kursus bekam 7 hari melarang orang sakit berobat ke dokter ahli tersebut. Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam manusia paling mulia itu pun sangat menghargai profesi dokter. Beliau serahkan pengobatan sahabatnya yang sakit kepada dokter. Nabi mulia itu pun bersabda:

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَا يُعْلَمُ مِنْهُ طِبٌّ فَهُوَ ضَامِنٌ

“Barangsiapa berpraktek kedokteran padahal ia belum dikenal menguasai ilmu kedokteran, maka ia harus bertanggung jawab.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasai)

Perkembangan penyakit saat ini tidak bisa dipecahkan dengan ilmu yang bersifat umum. Satu cara pengobatan untuk semua penyakit. Tidak bisa saudaraku. Ada anak kawan saya sudah positif demam tifoid (tifus) menolak antibiotik karena zat kimia, tetap diobati herbal terus masuk kondisi memburuk. Akhirnya takdir Allah pun berlaku, ia wafat. Innalillah. Kenapa kita tidak lari dari takdir yang satu menuju takdir yang lain seperti kata Umar.

Motto saya: Anda boleh cari dokter terbaik di dunia, tapi gantungkan harapan kesembuhan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala Sang Maha Penyembuh. Bila Anda sakit demam, 3 hari pertama, silakan pakai pengobatan yang Anda yakini, banyak minum, rukyah, bekam, herbal, dll. Tapi bila kondisi tidak membaik bahkan memburuk, serahkan urusan pengobatan kepada dokter yang sekolah belasan tahun itu.

Apakah pengobatan modern itu mengandung zat kimia? Ya, tapi herbal juga zat kimia. Nasi, air, gula, kopi, susu, semua zat kimia. Yang penting obat modern itu halal, tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. Bahkan pada obat modern, dosis, efek samping, reaksi alergi sudah diketahui

Tapi sebagian besar herbal tidak diketahui dosis, efek samping, reaksi alergi. Selalu dianggap aman dan dianggap bukan zat kimia. Saya tidak anti herbal, setiap malam saya makan garlic (kapsul bawang putih). Tapi bila kena infeksi bakteri saya akan minum antibiotika. Tapi saya yakin penyebab kesembuhan saya bukan pada garlic atau antibiotika, hanya Allah yang menyembuhkan hamba-hamba-Nya.

Saudaraku, keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan keyakinan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jangan membuat kita benci dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saja yang guru besar Thibbun Nabawi (pengobatan nabi) minta tolong ahli pengobatan pada saat itu. Nabi menghormati profesi medis. Kenapa sekarang tiba-tiba ada pengarang buku Rasulullah is my doctor, kemudian dia mencaci habis pengobatan modern. Apa dia lebih hebat dari Nabi? Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memilah mana pengobatan modern yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bukan memusuhinya secara total.


Penulis :  Dr. Piprim B. Yanuarso Sp. A(K)


Sumber : dakwatuna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Pengikut

Total Tayangan Halaman